SUJUD SYAHWI[1]

Sujud syahwi adalah sujud yang dilakukan orang yang shalat sebanyak dua kali untuk menutup kekurangan yang terjadfi dalam pelaksanaan shalat yang disebabkan lupa.

sebab-sebab sujud syahwi ada tiga: karena kelebihan, karena kurang dan karena ragu-ragu. Keterangannya sebagai berikut:

  1. Sujud syahwi karena Kelebihan

Barangsiapa kelupaan dalam shalatnya kemudian dia menambah ruku’ atau sujud, maka dia harus sujud dua kali sesudah menyelesaikan shalatnya dan salamnya. Hal ini berdasarkan hadits berikut:

“Dari Ibnu Mas’us Radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Dzuhur lima rakaat, kemudian beliau ditanya, ‘Apakah shalat Dzuhur ditambah rakaatnya?’, beliau balik bertanya. ‘Apa itu?’para sahabat menjelaskan,’Anda shalat lima rakaat.’ Kemudian Beliau pun sujud dua kali setelah salam. Dalam riwayat lain disebutkan , beliau melipat kedua kakinya dan menghadap kiblat kenudian sujud dua kali, kemudian salam. “ (Muttafaq ‘alaih).

Salam sebelum shalat selesai berarti termasuk kelebihan dalam shalat, sebab ia telah menambah salam di pertengahan pelaksanaan shalat. Barangsiapa mengalami hal itu dalam keadaan lupa, lalu ia ingat beberapa saat setelahnya, maka dia harus menyempurnakan shalatnya kemudian salam, setelah itu dia sujud syahwi, kemudian salam lagi. Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

“ Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwasannya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Dzuhur atau Ashar bersama para sahabat. Beliau salam setelah shalat dua rakaat, kemudian orang-orang yang bergegas keluar dari pintu masjid berkata, ‘Shalat telah diqashar(dikurangi)?’ Nabi pun berdiri untuk bersandar pada sebuah kayu, sepertinya beliau marah. Kemudian berdirilah seorang laki-laki dan bertanya kepadanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah Anda lupa, atau memang shalat telah diqashar?’ Nabi berkata, ‘Aku tidak lupa dan shalatpun tidak di qashar’. Laki-laki itu kembali berkata,’ Kalau begitu Anda memang lupa wahai Rasulullah’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat, ‘Benarkah apa yang dikatakannya?’Merekapun mengatakan .’Benar’. Maka majulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya beliau shalat untuk melengkapi kekurangan tadi, kemudian salam, lalu sujud dua kali dan salam lagi. (Muttafaq ‘alaih).

  1. Sujud syahwi karena kekurangan

Barangsiapa lupa dalam shalatnya, kemudian ia meninggalkan salah satu sunnah muakkad (yaitu yang termasuk kategori hal-hal wajib dalam shalat), maka ia harus sujud syahwi sebelum salam, seperti misalnya ia lupa melakukan tasyahud awal dan dia tidak ingat sama sekali, atau dia ingat setelah berdiri tegak dengan sempurna, maka dia tidak perlu uduk kembali, cukup baginya sujud syahwi sebelum salam. Dalilnya ialah hadits berikut:

“ Dari Abdullah bin Buhainah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Dzuhur berama mereka, beliau langsung berdiri setelah dua rakaat pertama dan tidak duduk. Para jamaah pun tetap mengikuti beliau sampai beliau selesai menyempurnakan shalat, orang-orang pun menunggu salam beliau, akan tetapi beliau malah bertakbir padahal beliau dalam keadaan duduk (tasyahud akhir), kemudian beliau sujud dua kali sebelum salam, lalu salam “ (Muttafaq ‘alaih).

  1. Sujud syahwi karena ragu-ragu

yaitu ragu-ragu antara dua hal, yang mana yang terjadi. Keragu-raguan terdapat dalam dua hal, yaitu antara kelebihan atau kurang. Umpamanya seseorang ragu apakah dia sudah shalat tiga rakaat atau empat rakaat.

Keraguaan ini ada dua macam:

  1. Seseorang lebih cenderung kepada satu hal, baik kelebihan atau kurang, maka dia harus mengambil sikap kepada yang lebih ia yakini, kemudian dia melakukan sujud syahwi setelah salam. dalilnya hadits berikut:

“ Dari Abdullah Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Apabila salah seorang dari kamu ada yang ragu-ragu dalam shalatnya, maka hendaklah lebih memilih kepada yang paling mendekati kebenaran, kemudian menyempurnakan shalatnya, lalu melakukan salam, selanjutnya sujud dua kali. “(muttafaq ‘alaih).

  1. Ragu-ragu antara dua hal, dan tidak condong pada salah satunya, tidak kepada kelebihan dalam pelaksanaan shalat dan tidak pula pada kekurangan. Maka dia harus mengambil sikap kepada hal yang sudah pasti kebenarannya, yaitu jumlah rakaat yang lebih sedikit. Kemudian menutupi kekurangan tersebut, lalu sujud dua kali sebelum salam, ini berdasarkan hadits berikut:

“ Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:’ Apabila salah seorang diantara kamu ragu-ragu dalam shalatnya, dia tidak tahu berapa rakaat yang sudah ia lakukan, tigakah atau empat? Maka ambil apa yang ia yakini, kemudian ia sujud dua kali sebelum salam. Jika ia telah shalat lima rakaat, maka hal itu menggenapkan pelaksanaan shalatnya, dan jika ia shalat sempurna empat rakaat, maka hal itu merupakan penghinaan (pengecewaan) terhadap setan’”. (HR. Muslim).

Ringkasnya, bahwa sujud syahwi itu adakalanya sebelum salam dan adakalanya setelah salam. Adapun sujud syahwi yan dilakukan setelah salam ialah pada dua kondisi:

l Apabila karena kelebihan (dalam pelaksanaan shalat)

l Apabila karena ragu-ragu antara dua kemungkinan, tapi ada kecondongan pada salah satunya.

Sedangkan sujud syahwi yang dilakukan sebelum salam juga pada dua kondisi:

l Apabila dikarenakan kurang (dalam pelaksanaan shalat)

l Apabila karena ragu antara dua kemungkinan dan tidak merasa lebih berat kepada salah satunya.


[1] Referensi:Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin. Tuntunan Shalat Menurut al-qur’an dan As Sunnah. Jakarta: darul Haq. 1999. hal. 54-60.